Syekh Nawawi Al Bantani, Biografi, Karya, Karamah & Sejarahnya

Posted on

Syekh Nawawi Al Bantani hidup pada 1230 hinga 1314 H atau pada 1813 – 1897 M. Syekh Nawawi Banten merupakan satu dari beberapa ulama asli Nusantara yang berkesempatan mengajar di Masjidil Haram, masjid yang mulia tempat kiblat ummat Islam di Makkah Al-Mukarramah pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ulama lainnya yang mengajar disana adalah muridnya sendiri, yaitu Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dan juga Kiai Mahfudz Termas (wafat pada 1919 M).

Nama lengkap dari Syekh Nawawi Al Bantani sendiri adalah Abu Abdul Mu’thy Muhammad Nawawi bin Umar ibn Arabi al Jawi al Bantani. Sang Ulama besar dilahirkan di daerah Tanara – Serang, Provinsi Banten di tahun 1230 Hijriyah atau pada 1813 Masehi. Ayah syekh Nawawi merupakan seorang tokoh agama Islam yang begitu disegani di daerahnya. Ia masih tersambung nasabnya dengan Maulana Syaikh Sunan Syarif Hidayatullah atau yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati (Cirebon). Istri dari Syekh Nawawi Banten yang pertama bernama Nasimah, yang juga lahir di daerah Tanara. Dari Nasimah, Syekh Nawawi Banten dikaruniai Allah 3 orang putri, yakni Nafisah, Maryam serta Rubi’ah.

Syekh Nawawi Al Bantani
Syaikh Nawawi Al Bantani
(Image: wikipedia)

Istri Syaikh Nawawi yang kedua adalah Hamdanah, dari Hamdanah Beliau dikaruniai lagi seorang putri yang diberi nama Zuhrah. Ada yang mengatakan bahwa Hamdanah saat itu masih berusia belasan tahun saat dinikahi oleh sang syekh pada usianya yang hampir seabad. Di usianya yang masih remaja, yaitu 15 tahun, Nawawi muda pergi untuk menuntut ilmu di Tanah Suci Makkah, sebab pada saat itu Indonesia (yang namanya masih Hindia Belanda) masih dikuasai Belanda, mereka membatasi berbagai kegiatan pendidikan yang ada di Indonesia. Setelah beberapa tahun kemudian, Syekh Nawawi kembali lagi ke Indonesia untuk mengajar dan memanfaatkan ilmunya pada masyarakat.

Tidak lama juga Beliau mengajar, hanya dalam waktu 3 tahun saja, karena situasi dan kondisi di tanah air masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat sang Kyai tidak bebas dalam mengajar. Beliau pun kembali lagi ke Makkah & kemudian mendapat kesempatan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada saudara sebangsa dari Indonesia yang datang & berniat belajar di sana. Banyak sumber –sumber yang menyatakan bahwa Syekh Nawawi Al Bantani wafat di Kota suci Makkah & dimakamkan di pemakaman Ma’la pada tahun 1314 Hijriyah atau 1897 Masehi, tapi menurut kitab Al-A’lam & Mu’jam Mu’allim, Beliau wafat pada tahun 1316 Hijriyah atau 1898 Masehi.

Syaikh Nawawi Ulama Penulis Multi Dimensi

Jejak Syekh Nawawi Banten hingga sekarang masih dapat Kita telusuri baik melalui murid & pengikut serta melalui karya tulis atau kitab-kitabnya, pemikirannya masih memiliki pengaruh & kitab-kitabnya dipakai di berbagai pesantren sampai kini, benar-benar layak & pantas jika Kita menempatkannya sebagai salah satu nenek moyang di dalam gerakan intelektual Islam Nusantara ini. Bahkan, sangat boleh jadi, Syekh Nawawi Banten merupakan ulama penggerak ataupun King Maker bagi militansi kaum muslimin terhadap penjajah Belanda.

Sebagai penulis yang sangat produktif, Syekh Nawawi Banten juga memiliki pengaruh besar dalam perkembangan dakwah Islam di Nusantara melalui pengikut serta tulisan-tulisannya. Bahkan seorang orientalis barat seperti Dr. C. Snouck Hurgronje pun tak ragu untuk memujinya sebagai orang Indonesia paling alim serta rendah hati. Sang syekh menulis lebih dari 38 judul kitab. Sumber lainnya mengatakan Beliau menulis lebih dari 100 buah kitab.

Syaikh Nawawi Al Bantani
Buku Tentang Syaikh Nawawi Al Bantani
(Image: bukalapak)

Syekh Nawawi Banten menulis berbagai karya tulis berupa kitab pada hampir semua cabang ilmu keislaman yang hingga saat ini masih dipelajari di banyak pondok pesantren. Beliau berbeda dari para penulis umumnya yang berasal dari Indonesia sebelumnya, Syaikh Nawawi Al-Bantani menulis dalam bahasa Arab. Banyak juga karya Beliau merupakan syarah alias komentar atas kitab yang sebelumnya sudah umum digunakan di berbagai pondok pesantren serta syarahnya menjelaskan, melengkapi & terkadang mengkoreksi matan atau isi kitab aslinya.

Sejumlah syarah-nya bahkan benar-benar telah menggantikan kitab matan asli pada kurikulum pesantren. Tidak kurang dari 22 karyanya (Syekh Nawawi menulis paling sedikit 2x dari jumlah itu) hingga sekarang masih beredar serta diantaranya 11 kitab Beliau yang paling banyak digunakan di berbagai pondok pesantren. Syekh Nawawi Banten seolah berdiri di titik peralihan antara 2 periode pada tradisi pondok pesantren. Beliau juga memperkenalkan & menafsirkan kembali berbagai warisan intelektualnya dan kemudian memperkayanya dengan cara menuliskan karya baru berdasarkan berbagai kitab yang belum terlalu populer di Indonesia pada masanya. Semua kyai dan ulama zaman sekarang menganggap Syaikh Nawawi Al-Bantani sebagai salah satu nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, seorang Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau yang cukup populer keilmuannya juga termasuk salah satu muridnya. Murid-murid Syekh yang lainnya antara lain seperti hadhratusy syaikh K.H. Hasyim Asy-ari, Syaikh Ahmad Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi Banten & KH. Tubagus Asnawi.

Berbagai Karya & Kitab Syekh Nawawi Al-Bantani Yang  Monumental

Beberapa karya yang monumental dari Syekh Nawawi Al Bantani diantaranya seperti Qathr al-Ghaits, yang merupakan kitab syarah dari kitab akidah yang populer, Ushul 6 bis, tulisan Syaikh Abu Laits al-Samarqandi, yang kalau di daerah Jawa lebih dikenal dengan sebutan kitab Asmaraqandi. Bersama dengan tulisan Ahmad Subki Pekalongan berjudul Fath al-Mughits, yang merupakan terjemah berbahasa Jawa Ushul 6 Bis, Kitab Qathr al-Ghaits ini banyak dipakai kalangan pesantren & menjadikan Ushul 6 Bis juga menjadi lebih populer

Ushul 6 Bis sendiri merupakan tulisan tentang ushuluddin yang berisi 6 bab yang masing-masingnya dibuka dengan kalimah bismillah. Di abad ke-19, Kitab Ushul 6 Bis sendiri merupakan kitab akidah yang pertama kali dipelajari di berbagai pondok pesantren tingkat dasar di berbagai daerah Indonesia. Dua kitab populer lainnya yang diajarkan pada tingkat yang sama di pesantren adalah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh tulisan Imam Abu Syuja’ al-Isfahani & Kitab Bidayah al-Hidayah, sebuah kitab tetang adab karya  Imam al-Ghazali yang menjadi ringkasan ihya.

Kitab lainnya yang disyarah syaikh Nawawi adalah Kitab tentang mauled Nabi yaitu Madarij al-Su’ud Ila Ikhtisah al-Burud, yang juga memakai bahasa Arab dalam berbagai terbitannya juga merupakan adaptasi Indonesia dari sebuah kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzanji yang berisi mengenai Maulid an-Nabi shalllallahu alaihi wa sallam (‘Iqd al-Jawahir). Kitab utama lainnya yang tidak kalah penting adalah kitab Minhajut Thalibin & syarahnya atas karya dari Khatib Syarbini, yaitu Kitab Mughni al-Muhtaj. Minhaj ini merupakan kitab yang dijadikan dasar utama dan sering dianggap sebagai sebuah sumber riil otoritas.

Kitab Marrah Labid (Tafsir Munir) karya Syaikh Nawawi Al Bantani
Kitab Marrah Labid (Tafsir Munir) karya Syaikh Nawawi Al Bantani

Teks dasar dalam bidang aqidah adalah kitab Ummul Barahin (yang populer juga dengan sebutan kitab Al-Durrah) karya Syekh Abu ’Abdullah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi (Beliau wafat pada 895 H atau 1490 M). Syarah lainnya yang lebih mendalam lagi, populer sebagai kitab as-Sanusi, yang telah ditulis oleh sang penulis sendiri. Karya-karya penting lainnya yang ditulis berdasarkan Kitab As-Sanusi ini diantaranya adalah kitab Kifayatul ‘Awwam yang merupakan karya Muhammad bin Muhammad Al-Fadhdholi (Beliau wafat pada 1236 H atau pada 1821 M) yang karyanya sangat terkenal di Indonesia.

Murid Al-Fadhali, yakni syaikh Ibrahim Bajuri (Beliau wafat pada 1277 H atau pada 1861 M) menulis syarahnya, Taqiqul Maqam ‘Alaa Kifayatil ’Awwam, yang kemudian dicetak bersama dengan Kifayah-nya dalam edisi Indonesia. Syarah tersebut di-hasyiyah-kan juga dengan baik oleh Syekh Nawawi Banten di dalam karyanya yang hingga banyak dibaca oleh para santri di berbagai ponpes, yaitu kitab Tijan ad-Durari.

Tak hanya itu, Syekh Nawawi Al Bantani menulis juga kitab yang ditujukan bagi anak-anak serta remaja. Kitab cukup singkat ini berbentuk sajak agar mereka yang masih berusia belia serta baru mengerti bahasa Arab mudah memahami dan menghafalnya, kitabnya berjudul ‘Aqidatul al-Awwam, yang ditulis oleh Syaikh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al~Makki ( 1864 M). Syekh Nawawi Banten menulis syarah populer dari kitab tersebut yang berjudul Nuruzh Zhalam.

Kitab Nasha’ih al-‘Ibad menjadi karya populer lainnya dari Syekh Nawawi. Kitab ini merupakan syarah atas kitab Munabbihat ‘Ala al Isti’dad Li Yaumil al-Ma’ad karya al-Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani. Kitab ini membahas tentang adab & akhlak tashawuf serta sering dijadikan karya pengantar untuk pengenalan akhlak bagi santri di pesantren.

Syekh Nawawi Al Bantani juga membuat syarah berbahasa Arab atas karya populer  Imam Al-Ghazali, yaitu kitab Bidayah al-Hidayah, syarh kitab tersebut berjudul Maraqil ‘Ubudiyah, kitab ini masih sering dikaji oleh para santri sampai sekarang.

Kitab tentang hak & kewajiban pasangan suami istri berjudul ‘Uqd al-Lujain fi Huquqiz Zaujain menjadi karya populer lainnya dari syaikh Nawawi. Ini merupakan salah satu materi pelajaran wajib untuk para santri di berbagai pondok pesantren. Dua terjemahannya serta syarah-nya yang berbahasa Jawa tidak kalah populer, seperti kitab Hidayah al-‘Arisin karya  Abu Muhammad Hasanuddin asal Pekalongan & kitab Su’ud al-Kaumain karya Sibt al-Utsmani Ahdari aljangalani al-Qudusi.

Syekh Nawawi Al Bantani yang terkenal sangat produktif menuliskan berbagai karya juga menulis kitab syarah Salalim al-Fudhala’, atas kitab Hidayah al-Adzkiya’ Ila Thariq al-Auliya, ini merupakan teks pelajaran tashawuf praktis karya dari Syaikh Zainuddin al-Malibari yang disusunnya dalam untaian sajak pada tahun 914 H atau 1508 – 1609 M. Kitab ini sejak dulu sangat terkenal di daerah Jawa, misalnya disebutkan juga di dalam Serat Centhini. Salalim al-Fudhala’ tercetak di bagian tepi kitab Kifayatul Ashfiya karya populer dari Sayyid Bakri bin Muhammad Syaththa’ ad-Dimyaty.

Syekh Nawawi Banten juga termasuk ulama besar yang memberikan sumbangan sangat penting untuk perkembangan ilmu fiqh di Nusantara. Ia memperkenalkan & menjelaskan lewat syarah yang ia tulis, berbagai karya fiqh-nya penting serta mendidik generasi ulama yang menguasai & memberikan perhatian khusus kepada fiqh.

Ia menuliskan kitab fiqh yang dipakai secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini adalah syarah kitab Qurrat al-‘Ain, karya seorang ulama India Selatan pada abad ke-16, Zainuddin al-Malibari (wafat 975 M). ulama India tersebut merupakan murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat pada 973 M), penulis Tuhfatul al-Muhtaj, namun Qurrat & syarah yang belakangan ditulis oleh al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada kitab Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain ini belakangan dikomentari & ditulis kembali oleh penyusunnya sendiri menjadi Fathul Muin. Dua orang yang sebenarnya sezaman dengan Syekh Nawawi Banten saat di Makkah namun lebih muda usianya menuliskan hasyiyah (catatan) atas kitab Fathul Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menuliskan empat jilid I’anah at-Thalibbin yang berisi catatan pengarang & sejumlah fatwa mufti madzhab Syafi’i di Makkah kala itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang sangat populer sebagai rujukan utama.

Syekh Nawawi Banten juga menulis kitab dalam bahasa Arab yaitu kitab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lainnya yang juga penting dalam pembelajaran ilmu fiqh. Yang satu merupakan teks pengantar kitab Sullam at-Taufiq yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat pada 1272 H atau 1855 M). Satu lainnya adalah Safinah an-Najah ditulis Syaikh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadramaut – Yaman yang tinggal di Batavia (Jakarta) pada pertengahan abad 19.

Kitab daras atau text book Riyadhul Badi’ah fi Ushuliddin wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas tentang butir pilihan ajaran & kewajiban agama juga diperkenalkan oleh Syaikh Nawawi Al Bantani pada kaum muslimin di Indonesia. Tak banyak diketahui mengenai pengarangnya, Syaikh Muhammad Hasbullah. Mungkin ia sezaman dengan ataupun sedikit lebih tua dari Syekh Nawawi Banten. Ia dikenal terutama karena syarah Nawawi, yaitu Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di bagian pinggirnya.

Sullamul Munajat merupakan karya lainnya dari Syaikh Nawawi Al Bantani atas sebuah pedoman ibadah bernama kitab Safinah ash-Shalah yang ditulis Syaikh Abdullah bin Umar Al-Hadramy, sedangkan Kitab Tausyih Ibn Qasim merupakan komentar Beliau atas kitab Fath al-Qarib. Dan tentu masih banyak lagi karya Syekh Nawawi ini jika dijabarkan satu per satu.

Syekh Nawawi Al Bantani Sebagai Tokoh Sufi Qodiriyah

Syekh Nawawi Banten juga tercatat sebagai salah seorang tokoh sufi pengikut thariqah Qadiriyah, yaitu yang ajaran thariqah yang didirikan Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (Beliau wafat pada 561 H atau 1166 M). Namun ayangnya, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis masih belum mendapatkan bahan untuk rujukan yang memuaskan mengenai Syekh Nawawi Al Bantani sebagai pengikut thariqah Qadiriyah ataukah thariqah gabungan Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Padahal, sejak lama pembacaan kitab Manaqib Abdul Qadir pada berbagai kesempatan tertentu merupakan indikasi akan kuatnya tarekat ini di wilayah Banten. Bahkan, Hikayah Syekh, terjemahan salah satu dari versi Manaqib, Khulashatul Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib As-Syaikh ‘Abdil Qadir yang ditulis ‘Afifuddin al-Yafi’i (wafat pada 1367 M), sangat mungkin dikerjakan di Banten di abad ke-17, terutama mengingat penggunaan gaya bahasanya yang sangat kuno. Apalagi, pada pertengahan abad ke 18 silam, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, di dalam segel resminya menggelari dirinya al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin asal Kalimantan di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib Sambas (wafat pada 1878), menyebarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan juga dengan Naqshabandiyah. Kedudukan Beliau sebagai pemimpin thariqah digantikan oleh Syaikh Abdul Karim yang juga bermukim di Mekah. Di tangannya, thariqah gabungan ini kemudian berkembang pesat di wilayah Banten & memberi pengaruh pada meletusnya Geger Cilegon pada tahu 1888 & amalannya melahirkan debus.

Syaikh Nawawi Al Bantani
Presiden di haul Syaikh Nawawi Al Bantani

Demiakanlah, Syekh Nawawi Banten yang hidup sekitar seabad setelah Syaikh Abdush Shamad Al-Falimbani disebutkan namanya di dalam isnad kitab tashawuf yang telah diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning yang masyhur, yaitu Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani (Syekh Yasin Padang) sebagai mata rantai sesudah Syaikh ‘Abd as-Samad.

Karomah Syekh Nawawi Al Bantani

Karomah merupakan kejadian luar biasa sebagai bentuk karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh dan istiqamah dalam beribadah dan menjaga diri dari kemaksiatan. Diantara berbagai karomah Syaikh Nawawi, berikut beberapa diantaranya yang populer ceritanya di tengah masyarakat.

Menjadikan Telunjuknya Sebagai Lampu

Pada suatu waktu Syekh Nawawi Al Bantani pernah menulis kitab dengan memakai telunjuk beliau yang dijadikannya sebagai lampu. Ketika di dalam sebuah perjalanan, karena tidak ada cahaya dalam syuqduf ataupun rumah-rumahan, sementara aspirasi sedang kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi Al Bantani lantas berdoa & memohon pada Allah  agar telunjuknya yang kiri bisa menjadi pelita supaya mampu menerangi jarinya yang kanan yang sedang digunakannya untuk menulis.

Kitab yang kemudian bernama Marâqil ‘Ubudiyyah syarah kitab Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dengan cacat pada bagian jari telunjuk kirinya. Cahaya yang Allah berikan pada jari telunjuk kirinya tersebut membawa bekas yang tidak hilang.

Melihat Ka’bah Dengan Telunjuknya

Karomah Syekh Nawawi Al Bantani yang lain juga cukup populer dalam cerita turun temurun adalah di saat Beliau mengunjungi salah satu masjid di Kota Jakarta kala itu, yakni Masjid Pekojan. Masjid yang didirikan oleh salah seorang keturunan Rasulullah saw, yaitu Sayyid Utsmân bin ‘Agil bin Yahya al ‘Alawi. Masjid yang dibangun oleh ulama & Mufti Betawi itu ternyata mempunyai kiblat yang salah. Padahal yang kala itu menentukan kiblat adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Kemudian, Sang Mufti Betawi kedatangan seorang remaja (Syekh Nawawi muda) yang mempermasalahkan arah kiblatnya. Ketika remaja yang bahkan tidak dikenalnya tersebut menyalahkan penentuan arah kiblat, maka Sayyid Utsman merasa kaget. Diskusi seru kemudian terjadi di antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap keukeuh berpendirian bahwa kiblat Mesjidnya itu sudah benar. Sementara remaja bernama Nawawi berpendapat bahwa arah kiblat mesjidnya itu perlu dibetulkan.

Saat kesepakatan ternyata tidak bisa diraih sebab masing-masing mempertahankan argumennya dengan teguh, Syaikh Nawawi Al Bantani meletakan tangan kirinya pada bahu Sayyid Utsmân (merangkul) & tangan kanannya menunjuk sesuatu, lantas Nawawi muda berkata: “Lihatlah Sayyid, itulah Ka’bah, kiblat kita. Lihat & perhatikanlah. Tidakkah Ka’bah itu terlihat sangat jelas? Sementara arah kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlu kiblatnya digeser sedikit ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka’bah”. Ujar Syaikh Nawawi Al Bantani yang masih remaja tersebut.

Sayyid Utsmân akhirnya termangu dan keheranan. Ka’bah yang ia saksikan dengan mengikuti telunjuk Nawawi remaja memang tampak jelas. Sayyid Utsmân pun merasa takjub & menyadari  bahwa remaja yang bertubuh kecil & berada di hadapannya ini dikaruniai Allah akan kemuliaan, yaitu terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah tersebut, di manapun Syekh Nawawi Al Bantani berada, Ka’bah tetap terlihat. Maka dengan penuh hormat Sayyid Utsman langsung saja memeluk tubuh kecil beliau & menjabat serta hendak mencium tangannya, namun ketika Sayyid Utsmân hendak mencium tanganya, Nawawi yang masih remaja menarik tangannya, Sayyid Utsmân pun kebingungan kenapa beliau tidak mau.

Syaikh Nawawi Al Bantani Banten
KH. Ma’ruf Amin, keturunan Syaikh Nawawi Al Bantani

Sayyid Utsmân lantas bertanya & Syaikh Nawawi menjawab: “Sebab saya tidak pantas untuk bersalaman sambil dicium (tangan Saya) seperti itu olehmu”. Subhanallah memang begitu tawadhu & mulianya akhlak Beliau. Hingga saat ini, apabila kita mengunjungi Masjid Pekojan, maka akan terlihat kiblat yang digeser, tidak sesuai bentuk bangunan aslinya.

Jenazahnya Dimuliakan Allah

Telah menjadi kebijakan baku bagi Pemerintah Arab Saudi bahwa orang-orang yang telah dikubur selama 1 tahun kuburannya harus digali. Kemudian tulang belulang mayat diambil & disatukan bersama tulang belulang mayat yang lainnya. Selanjutnya semua tulang tersebut dikuburkan di tempat lainnya di luar kota. Lubang kubur yang telah dibongkar dibiarkannya tetap terbuka hingga datang jenazah baru berikutnya, demikian seterusnya silih berganti. Kebijakan yang satu ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun orangnya, pejabat ataupun orang biasa, saudagar kaya raya atau orang miskin, semua terkena kebijakan tersebut.

Ini yang juga menimpa kuburan Syaikh Nawawi Al Bantani. Kuburnya telah genap berusia satu tahun, para petugas dari pemerintah kota datang untuk menggali makamnya. Namun yang terjadi adalah hal yang tidak lazim. Para petugas tersebut tidak menemukan tulang belulang mayat seperti biasanya. Yang ada adalah satu jasad manusia yang masih utuh. Tak kurang satu apapun, tidak ada lecet atau tanda-tanda pembusukan sedikitpun seperti jenazah yang sudah lama dikubur. Bahkan kain kafan berwarna putih penutup jasad Beliau tidak rusak, masih harum & tidak lapuk sedikitpun.

Tentu saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas penggali kubur. Mereka kemudian lari berhamburan dan melapor pada atasannya & menceritakan apa yang terjadi. Setelah diteliti, atasan mereka kemudian menyadari bahwa kubur yang digali itu bukan milik orang sembarangan. Langkah strategis kemudian diambil. Pemerintah melarang untuk membongkar makam tersebut. Jasad beliau kemudian dikuburkan kembali seperti sediakala. Sampai sekarang makam Syekh Nawawi Al Bantani tetap berada di pekuburan Ma’la, Mekah & yang paling aneh kuburan Beliau merupakan satu-satunya kuburan yang ditumbuhi rumput bahkan rumputnya tampak hijau dan bagus.

Tidur Di Atas Lidah Ular

Konon di suatu malam dimana Syekh Nawawi AL Bantani sedang melanjutkan perjalananya menuju ke Mekkah, beliau merasa kelelahan & mencari sebuah gubuk yang tidak berpenghuni. Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya beliau menemukan cahaya lampu yang sangat redup & kecil. Akhirnya beliau pergi ke tempat tersebut & memulai untuk beristirahat. Dibenaknya, Beliau bertanya-tanya, “Kok alas gubuk ini sangat lembut & empuk ya?”. Namun Saking lelahnya Beliau tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, tidurlah Beliau dengan meletakan tongkatnya dalam posisi berdiri.

Shubuh pun datang & Beliau terbangun dari tidurnya untuk sholat & kemudian segera melanjutkan perjalananya. Setelah berjalan kurang lebih 7 langkah dari tempat peristirahatanya tersebut, Beliau menyentuh darah yang berasal dari ujung tongkatnya tersebut, Karena merasa heran kemudian beliau menoleh ke arah belakang & melihat seekor ular raksasa yang mulai beranjak pergi. Tanpa disadari ternyata Beliau semalam tidur di lidah seekor ular raksasa & tongkatnya yang berposisi berdiri merintangi kedua gigi ular raksasa tersebut. Beliau pun langsung beristighfar & kemudian memuji kebesaran Allah dengan mengucap kalimat kebesaran-Nya.

Mengeluarkan Rambutan Dari Tangannya

Di Mekkah, Syekh Nawawi Al Bantani mendirikan tempat mengajar/madrasah dengan murid yang lumayan banyak. Suatu hari Beliau menerangkan pada para muridnya tentang sunnah berbuka puasa.

Syaikh Nawawi menjelaskan, “Sunnahnya di dalam Islam itu kalau saat masuk waktu berbuka puasa maka memakan makanan yang rasanya manis terlebih dulu, kalau disini terdapat buah kurma, ditempat Saya ada buah yang tak kalah manisnya dengan buah kurma”. Para santrinya lantas menjawab, “Betul syekh, ditempat Kami (disini) ada kurma, lalau bagaimana dengan tempat asal syekh (Indonesia) yang tidak tumbuh buah kurma?”

Syaikh Nawawi kemudian menjawab, “Sebentar”. Kemudian Beliau menyembunyikan tangannya ke belakang. Para santri merasa heran dengan apa yang dilakukan gurunya & terdengar ditelinga para santri seperti suara seperti orang yang sedang memetik buah-buahan dari pohonnya.

Kemudian Syekh Nawawi Al Bantani menyuguhkan buah Rambutan segar seperti yang baru dipetik dari pohonya. Para santri pun merasa takjub dengan apa yang baru saja dilakukan oleh gurunya tersebut.

“Nah inilah yang aku makan pertama di saat berbuka puasa di tempatku, silahkan cicipi”. Kata Syekh Nawawi yang kemudian membagikannya pada para santri dikelas tempatnya mengajar. Para santri kemudian langsung mencicipi & menikmati manis & segarnya buah rambutan yang diberikan oleh gurunya itu.

Karomah Syekh Nawawi Al Bantani memang sangat banyak, masih banyak yang tidak dituliskan disini. Karomah merupakan buah dari istiqamah yang dikaruniakan Allah bagi orang orang yang dikehendakinya. Namun yang perlu Kita teladani dari Syekh Nawawi Banten adalah kesungguhannya dalam mencari ilmu, kemuliaan akhlaknya, kegigihannya dalam beribadah serta sosoknya yang memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama umat Islam melalui berbagai karya dan murid muridnya.