Hukum Melangkahi Kuburan Seorang Muslim

Posted on

Bagaimana hukum melangkahi kuburan muslim? Seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik, apakah kepada orang yang masih hidup ataupun kepada orang sudah meninggal. Salah satu cara berakhlak yang baik atau menghormati mereka yang sudah wafat adalah merawat serta menziarahi makamnya termasuk menjaga beberapa adab di dalamnya.

Sebab bagaimanapun, seorang muslim yang sudah meninggal statusnya masih sama dengan seorang muslim yang masih hidup di dalam hal kewajiban untuk menghormatinya. Demikian dijelaskan dalam berbagai kitab fikih.

hukum melangkahi kuburan

“Menghormati mayit itu sama halnya dengan menghormati seseorang yang masih hidup.”

Oleh karena itu perilaku kita di dalam menyikapi mayit atau orang yang sudah wafat mestinya sama persis dengan saat Kita berperilaku pada seseorang yang masih hidup. Manusia adalah makhluk yang sangat dimuliakan di dalam Islam, bukan cuma ketika hidup tapi juga pada saat meninggal dunia. Sudah tidak bernyawa bukan berarti ia jadi setara dengan benda mati. Kita tidak boleh merendahkan mayit atau jenazah & kuburannya. Apalagi jika jasad yang bersemayam di kubur tersebut adalah dari kalangan orang-orang yang saleh.

Hukum ziarah kubur
hukum melangkahi kuburan (Image: detikmajalah.com)

Lalu bagaimana hukum melangkahi kuburan seorang muslim? Apakah termasuk merendahkan mayit? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan:

hukum melangkahi kuburan

 

 

“Sungguh berjalannya Aku di atas bara api ataupun pedang, ataupun aku menjahit sandalku memakai kakiku, lebih aku sukai dibandingkan dengan aku berjalan di atas kuburan seorang Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Makna yang terkandung dalam hadits tersebut salah satunya jelas bahwa melangkahi kuburan ataupun berjalan di atasnya termasuk bentuk perilaku yang suul adab (tidak beretika). Kesimpulan ini dapat ditangkap dari redaksi hadits: ‘berjalan di atas bara api & pedang’ sebagai sesuatu yang tentunya tidak diinginkan oleh siapa pun.

Hal tersebut di atas dapat Kita fahami ketika ditinjau dari kacamata adab. Akan berbeda halnya ketika masalah hukum melangkahi kuburan tersebut kita kaitkan dengan hukum fikih. Melangkahi pekuburan secara fikih hukumnya makruh jika dilakukan oleh seseorang. Hukum makruh tersebut selamanya tetap, kecuali jika tidak ada jalan alternatif lainnya sama sekali untuk menuju ke tempat tujuan dan terpaksa harus melangkahi kuburan. Dalam kondisi yang terpaksa seperti itu status melangkahi ataupun berjalan di atas kuburan hukumnya menjadi boleh. Hal ini seperti penjelasan yang terdapat di dalam kitab Fiqih ‘ala Mazahib al-Arba’ah:

hukum melangkahi kuburan muslim

 

“Makruh berjalan di atas pekuburan kecuali di dalam keadaan yang darurat, misalnya seseorang yang tidak dapat sampai pada kuburan mayatnya kecuali dengan melangkahi kuburan. Hukum ini sudah jadi kesepakatan para ulama.” (al-Fiqh ‘alal-Mazahibil Arba’ah, juz 1 halaman 841)

Meskipun secara fiqih hukum melangkahi kuburan ini adalah makruh, namun seorang muslim hendaknya tidak serta merta menganggap remeh hal tersebut dalam ranah etika juga dalam akibat yang akan ditimbulkan pada ahli kubur yang dilangkahi kuburannya. Ahli kubur akan merasa tersakiti apabila terdapat orang yang memiliki sikap tidak baik pada kuburannya, seperti dalam sebuah hadits:

hukum melangkahi kubur muslim

“Rasulullah SAW melihatku bersandar pada kuburan, lantas ia menegurku, ‘Jangan kamu sakiti mayit yang berada di kuburan ini!” (HR Hakim)

Hal lainnya yang perlu diperhatikan di dalam menjaga adab di area kuburan adalah tidak berjalan-jalan di area sekitar kuburan sambil memakai sandal ataupun sepatu. Meskipun jalan yang ditapakinya tidak sampai melangkahi pekuburan, tetapi jika dengan memakai sandal atau sepatu seseorang bisa dianggap kurang begitu menjaga adabnya pada mayit yang berada di pekuburan tersebut. Hal itu dikarenakan Rasulullah sendiri pernah melarang seseorang yang menggunakan sandal di sekitar kuburan & memerintahkannya untuk melepas sandalnya. Berikut sebuah hadits yang diriwayatkan sahabat Basyir bin Khashasiyah:

hukum melangkahi kuburan

“Sungguh Rasulullah SAW melihat seorang lelaki yang berjalan di antara pekuburan dengan memakai sandalnya. Lalu Rasulullah SAW menegurnya “Hai orang yang menggunakan sandal, buanglah kedua sandalmu itu!”

Demikian penjelasan mengenai hukum melangkahi kuburan, umumnya dapat disimpulkan bahwa meskipun hukum melangkahi kuburan hanyalah sebatas makruh, akan tetapi di samping kemakruhan tersebut orang yang melakukannya dianggap sebagai cacat etika (suul adab), sebab ia tidak menghormati mayit yang terdapat di kuburan. Bahkan banyak juga para ulama hadits menjadikan pembahasan (bab) tersendiri di dalam menjelaskan larangan melangkah/berjalan di atas kuburan ini, tidak lain kecuali untuk menegaskan betapa perbuatan seperti ini adalah perbuatan dan adab yang tidak baik.

Ketika Kita mendapati seseorang yang melakukan tindakan seperti ini, alangkah baiknya juga apabila kita tidak tergesa-gesa untuk menghina dan bahkan menebar kebencian padanya. Lebih tepat dan bijak jika Kita mengingatkannya bahwa perbuatan tersebut menyalahi adab serta bisa menyakiti mayit yang terdapat di kuburan tersebut, sehingga ia tidak mengulanginya lagi di kemudian hari. Semoga pembahasan tentang hukum melangkahi kuburan ini menjadi tambahan pengetahuan bagi Kita. (Sumber: nu.or.id)